bakteriologi

DAFTAR ISI

 

  1. A.   Riwayat Mikrobiologi
  2. B.   Klasifikasi Bakteriologi
  3. C.   Struktur Bakteri
  4. D.   Morfologi Bakteri
  5. E.   Fisiologi dan Pertumbuhan Bakteri
  6. F.    Reproduksi Bakteri
  7. G.   Metabolisme Bakteri
  8. H.   Media untuk Pertumbuhan Bakteri
  9. I.      Pengambilan dan Penanganan Spesimen untuk Pemeriksaan Bakteriologis
  10. J.    Pemeriksaan Mikroskopis Terhadap Bakteri
  11. K.   Isolasi Bakteri Aerob/Anaerob Fakultatif dari Spesimen

Daftar Pustaka

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


FLOW CHART FOR THE PRESUMPTIVE OF COMMONLY ENCOUNTERED

ENTEROBACTERIACEAE ON TSI AGAR

 

P.mirabilis

TSI AGAR

Alk/A H2S +

A/A H2S+

Alk/A H2S-

A/A H2S-

Proteus mirabilis

Salmonella sp

Citrobacter freundii

Edwarsiella tarda

Proteus vulgaris

Citrobacter freundii

Salmonella arizonae

Providencia rettgerii

Margonella morganiia

Citrobacter sp

Shigella sp

E.coli

P.alcalifaciens

Yersinia pestis

Serratia sp

E.coli

Klebsiella sp

Enterobacter sp

Serratia sp

PAD

PAD

Salmonella sp

C. freundii

E.tarda

 

P.vulgaris

C. freundii

Salmonella

Arizonae

 

PAD

IMVC

E. coli

Klebsiella sp

Enterobacter sp

Serratia sp

Enterobacter sp

Sertaria sp

Klebsiella sp.

Providencia rettgeri

Marganella morganii

P.Stuatii

P. alkalifaciens

         Motility

Citrobacter sp

Shigella sp

Yersinia petis

Citrate

Providencia retgerii

 

Morganella morganii

 

Lysine decarboxylase

 

Salmonella sp

E.tarda

 

Salmonella sp

E.tarda

 

C. freundii

Salmonella

Paratyphi A

 

   Indole

E. Tarda

 

Salmonella sp

 

+

-

+

-

++–

–++

+

-

+

-

+

-

Sertaria sp

Enterobacter sp

 

Motility

-

+

-

+

-

+

-

 

+

D-Nase



BAKTERIOLOGI

 

  1. A.   Riwayat Mikrobiologi

Mikrobiologi meliputi beberapa cabang yaitu Bakteriologi, Mikologi, Protozologi, dan Virologi.

Mikroorganisme yang berukuran kecil (diameter kurang dari 500 mikron) dipelajari dalam mikrobiologi adalah makhluk hidup yang tidak dapat dilihat dengan mata biasa tetapi harus dengan bantuan peralatan khusus.

Jasad renik adalah nama lain dari mikroorganisme terdapat dimana-mana, ada yang bermanfaat bagi manusia tetapi adapula yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia, hewan dan tumbuhan.

Mikrobiologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan terus berkembang tanpa hentinya karena mikroorganisme sebagai makhluk hidup mampu menyesesuaikan dirinya terrhadap perubahan yang ada disekitarnya, sehingga tidak mengherankan jika suatu bakteri tersebut menjadi resisten terhadap antibiotik tadi.

Begitupun sifat-sifat reaksinya terhadap bahan kimia lainnya tidak selamanya sama dan sifat fisisnya pun bisa berubah-ubah sesuai dengan keadaan sekelilingnya.

Penyakit infeksi sejak dahulu kala telah dikenal yang oleh orang purba dianggapnya sebagai suatu kutukan para dewa, sehingga untuk menghilangkan/menyembuhkan pperlu dilakukan pengobatan tertentu.

Hipocrates menganggap bahwa penyebab penyakit infeksi adalah faktor intrinsik yang terdapat dalam tubuh penderita dan faktor ekstrinsik yang berasal dari luar yaitu yang berhubungan dengan udara karena sesuatu hal yang tidak diketahui berubah jadi buruk/rusak. Teori generatio spontanea yang menyatakan bahwa makhluk hidup bisa berasal dari makhluk mati hanya bertahan beberapa lama karena adanya penemuan-penemuan baru yang diawali dengan tampilnya Anton van Leeuwenhoek dengan menggunakan mikroskopnya untuk melihat jazad renik yang berada dalam beberapa cairan.

Louis Pasteur (1860) mengambil keuntungan dari Leeuwenhoek untuk membuktikan ketidakbenaran teori generatio spontanea, dengan melakukan percobaan yakni memasak kaldu yang ada dalam labu balon untuk mematikan jazad renik yang ada didalamnya.

Setelah dibiarkan beberapa waktu, ternyata cairan kaldu tersebut menjadi keruh karena berhubungan dengan udara  luar.

Percobaan berikutnya Louis Pasteur berbuat sama tetapi menggunakan labu balon yang leher panjang, bagian tengahnya berbentuk U sehingga udara luar tidak dapat berhubungan dengan cairan yang ada alam labu tersebut.

Pada percobaan ini terlihat bahwa cairan tetap jernih walaupun telah dibiarkan beberapa waktu/malam.

Dari kedua percobaan ini terbukti bahwa cairan kaldu yang berhubungan dengan udara menjadi keruh karena adanya pertumbuhan mikroba.

Kebenaran penemuan Pasteur diperkuat oleh Lister, seorang ahli bedah yang melakukan tindakan aseptik dalam pembedahan dengan menggunakan disinfektan yang dapat mematikan mikroba yang terdapat dalam udara, sehingga angka kematian paska operasi sangat menurun.

Robert Koch (1876) seorang dokter dari Jerman berhasil mengisolasi bakteri anthraxndari hewan yang sakit dengan memakai pembenihan. Bakteri anthrax yang murni tadi ternyata dapat menimbulkan penyakit yang sama jika dimasukkan kedalam tubuh binatang yang peka.

Berdasarkan penemuan ini Koch memformulasikan kriteria mengenai bakteri-bakteri ini yang dikenal sebagai Postulat Koch, yaitu :

  1. Bakteri harus selalu dapat ditemukan di dalam tubuh binatang yang sakit, tetapi tidak pada binatang yang sehat.
  2. Bakteri tersebut dapat diasingkan dan dibiakkan dalam bentuk biakan murni diluar tubuh binatang tadi
  3. Biakan murni bakteri tersebut harus mampu menimbulkan penyakit yang sama pada binatang percobaan
  4. Bakteri tersebut dapat diasingkan kembali dari bintang percobaan tadi

Pada zaman Koch sampai sekarang kemajuan mikrobiologi semakin meningkat terus dan telah merubah pandangan manusia mengenai timbulnya penyakit serta menyingkirkan pendapat/kepercayaan terhadap teori generatio spontanea, begitupun kesadaran masyarakat untuk mengunjungi pusat-pusat pelayanan kesehatan termasuk berobat ke dokter bukan kedukun jika menderita suatu penyakit.

  1. B.   Klasifikasi Bakteri
  2. 1.    Taksonomi

Bakteri diklasifikasikan sebagai tanaman premitif karena :

  1. Mempunyai dinding sel seperti tanaman
  2. Beberapa jenis bakteri dan semua bakteri hijau bersifat fotosintetik

Bakteri, Fungi, Protozoa dan Algae ditempatkan dalam suatu kindom yang disebut prokaryotae (Prokariota), sementara binatang dan tumbuhan masuk dalam kindom Eukariotae (Eukariota).

Para ahli diagnostik mikrobiologi secara tradisional membagi bakteri kedalam 3 kelas :

  1. Famili (Mikrococcaceae)
  2. Genus (Staphylococcus)
  3. Spesies (Staphylococcus aureus)
  4. 2.    Nomenklatur

Seperti halnya tumbuhan, bakteri menggunakan juga 2 nama, yaituu nama genus yang dimulai dengan huruf besar, sedangkan nama spesies dimulai dengan huruf kecil, misalnya Mycobacterium tuberculosis.

Baik genus maupun species harus dicetak miring atau digaris bawahi (M. Tuberculosis) dan jika disingkat maka hanya huruf awal dari genus yang ditulis kemudian nama species, misalnya S. aureus

Nama genus yang diikuti oleh kata “species” (Staphylococcus spesies) berarti menunjukkan genus secara keseluruhan atau genus tersebut tidak dapat dispesifikasi. Species dapat disingkat menjadi sp (tunggal) atau spp (jamak), misalnya Bacillus sp. Jika bakteri menunjukkan suatu group, maka penulisannya selalu huruf kecil dan tidak digaris bawahi atau dicetak miring (steptococci).

  1. 3.    Klasifikasi berdasarkan fenotipe dan genotipe

Cara lain menempatkan organisme kedalam genus dan species tertentu adalah berdasarkan persamaan dari semua anggota untuk sejumlah karakteristik fenotipenya.

Para ahli epidemiologi membagi species bakteri ke dalam subspesies berdasarkan perbedaan fenotipenya (subspecies dapat disingkat menjadi subsp), serovarieties berdasarkan perbedaan serologisnya (serovarietis dapat disingkat menjadi serovar). Biovarieties berdasarkan perbedaan hasil tes biokimianya (biovarietis dapat disingkat menjadi biovar).

Untuk keperluan tertentu phage typing sering pula digunakan yaitu berdasarkan atas kepekaan bakteri terhadap bakteriofag.

  1. C.   Struktur Bakteri

Sel bakteri termasuk prokariotik yang strukturnya lebih sederhana jika dibandingkan dengan struktur sel eukariotik, kecuali dindingnya yang lebih kompleks.

  1. 1.    Nukleus/inti

Inti sel bakteri mempunyai dinding, didalamnya terdapat benang DNA (DNA febril) yang bila diekstraksi berupa molekul tunggal dan utuh dari DNA dengan erat molekul 2-3 x 109, dimana benang DNA ini disebut kromosom yang panjangnya sekitar 1 mm.

  1. 2.    Sitoplasma

Sitoplasma bakteri tidak mempunyai mitokondria atau kloroplast, bakteri dapat menyimpan makanan cadangan dalam bentuk granula sitoplasma.

Granula ini bekerja sebagai sumber karbon, tetapi jika sumber protein berkurang, karbon dalam granula ini dapat dikonversi menjadi sumber nitrogen.

Granula sitoplasma untuk beberapa jenis bakteri tertentu menyimpan sulfur, fosfat anorganik (granula volutin), bagi corynebacteria granula ini disebut granula metakromatik.

  1. 3.    Membran Sitoplasma

Membran sitoplasma disebut pula membran sel terdiri dari fosfolipid dan protein, tetapi tidak mengandung sterol, kecuali Mycoplasma dan Ureaplasma.

Pada daerah tertentu dari memran sitoplasma terdapat cekungan/lekukan ke dalam convoluted invagination yang disebut mesasom (septal dan lateral mesasom).

  1. 4.    Dinding Sel

Dinding sel bakteri relatif kuat, sehingga dapat mempertahankan bentuk bakteri itu sendiri, walaupun tekanan osmotiknya tinggi, sel bakteri tidak pecah.

Dinding sel terdiri dari lapisan peptidoglikan yang disebut juga lapisan murein mukopeptida).

Dalam garis besarnya sel bakteri dikelompokkan kedalam 2 jenis, yakni :

  1. Dinding sel gram positif

Lapisan peptidoglikan sangat tebal yang terdiri dari rantai polisakarida biasanya N-acctyl-D-glucosamine (NAG) dan N-acetil-D-muramic acid (NAM).

Komponen lain dari dinding sel gram positif dalam teochoic acid dan lipoteichoic acid, dimana kedua komponen ini merupakan hal yang unik bagi dinding sel gram positif.

Polisakarida antigenik kemungkinannya terdapat pada permukaan lapisan peptidoglikan.

  1. Dinding Sel Gram Negatif

Terdiri dari 2 lapisan, bagian dalam adalah lapisan peptidoglikan yang lebih tipis dari dinding sel gram positif, sedangkan lapisan bagian luar terdiri dari protein, fosfolipid dan lipopolisakarida.

Diluar lapisan peptidoglikan adalah suatu membran tambahan yang merupakan hal yang unik bagi dinding sel gram negatif.

Lipopolisakarida yang terdapat pada lapisan luar ini terdiri dari tiga daerah; O spesifik polisakarida antigenik, kor polisakarida dan lipid A yang terletak pada bagian lebih dalam.

Disamping itu ada sekelompok bakteri misalnya Mycobacterium sp yang mempunyai dinding sel yang tahan asam, karena adanya lapisan lilin dari glukolipid dan asam mikolat yang menyusun bagian luar dari dinding selnya, sehingga berwarna merah pada pengecatan Ziehl Neelsen.

Bahkan ada bakteri tertentu yang tidak mempunyai dinding sel yaitu dan Ureaplasma, tetapi terdapat sterol dalam membran selnya.

Dengan demikian bakteri ini mempunyai bentuk yang variatif, kehilangan sifat gram positif dan gram negatif, serta pertumbuhannya dalam media bersuplemen serum atau glukose membentuk huruf “L” untuk mencegah kerusakan membran sel dari pengaruh tekanan osmotik.

  1. 5.    Kapsul

Bakteri tertentu mensintesa polimer ekstra sel (umumnya polisakarida) yang berkondensasi dan membentuk lapisan di sekeliling sel, disebut kapsul.

Pertumbuhan pada medium agar, koloni kuman berkapsul kelihatan berlendir dan kuman yang berkapsul umumnya tahan terhadap efek fagositosis dari daya pertahanan tubuh. Adapun kuman yang biasa berkapsul adalah Streptococcus mutan, Klebsiella sp, Streptococcus pneumontae, dll.

  1. 6.    Flagel

Flagel adalah bagian bakteri yang ada pada bagian luar berbentuk sebagai benang, yang umumnya terdiri dari protein dengan diameter 12 – 30 nanometer. Flagel adalah alat pergerakan bakteri, dan protein dari flagel disebut flagelin.

Ddilihat dari letak dan jumlah flagel yang terdapat pada bakteri maka dikenal istilah :

  1. Monotrikh: flagel tunggal dan terdapat dibagian ujung bakteri
  2. Lopotrikh: lebih dari satu flagel pada satu bagian polar bakteri
  3. Amfitrikh ; flagel terdapat satu atau lebih pada kedua polar bakteri
  4. Peritrikh: flagel tersebar merata disekeliling badan bakteri
  5. 7.    Pili

Beberapa bakteri gram negatif mempunyai rambut pendek dan keras yang disebut pili, terdiri dari subunit-subunit protein. Pili dikenal 2 macam :

  1. Pili yang memegang peranan dalam adhesi bakteri dengan sel tubuh hospes.
  2. Seks pili yang berfungsi dalam konjugasi 2 sel bakteri
  3. Endospora

Clostridium sp adalah termasuk kelompok bakteri yang dapat membentuk spora, terutama dalam keadaan lingkungannya jelek, misalnya medium disekitarnya kekurangan nutrisi. Sel bakteri yang mebentuk spora akan kehilangan sel induknya karena mengalami otolisis. Bentuk spora adalah bakteri dalam keadaan istirahat.

Spora bersifat sangat resisten terhadap panas, kekeringan dan zat kimiawi, tetapi jika kondisi lingkungan membaik maka spora akan melakukan germinasi dan menjadi sel vegetatif. Secara morfologis, proses sporulasi terjadi dengan cara isolasi badan inti yang diikuti dengan melipatnya membran sel ke arah dalam.

Pada waktu germinasi diawali dengan adanya suatu zat yang merusak coat spora, misalnya panas, kemudian spora melakukan germinasi dengan menggunakan sumber makanan yang ada disekitarnya selanjutnya terjadi degradasi dari konteks dan sel vegetatif keluar dan hidup seperti semula. Letak spora dalam tubuh bakteri bisa terdapat pada bagian tengah sel bakteri (senteral), pada bagian ujung sebelah dalam (sebterminal) atau pada bagian ujung sebelah luar (terminal).

 

  1. D.   Morfologi Bakteri

Bakteri yang berukuran antara 0,4 – 2 um, dalam garis besarnya dibagi dalam tiga bentuk :

  1. 1.    Kokus (coccus)

Ada coccus yang berdiri sendiri (Micrococcus), ada yang duduk berdua berpasangan dan berbentuk biji kopi (N.gonorrhoeae), ada yang membentuk seperti rantai (Streptococcus) dan ada pula yang bergerombol seperti buah anggur (Staphylococcus).

  1. 2.    Basil

Bakteri yang berbentuk batang bermacam-macam pula, mulai dari yang paling pendek/coccobacilli (Gardnerella), bentuk batang dengan macam-macam bentuk dan ukuran (Salmonella,Shigella,dll), batang dengan ujung yang lancip (Fucifomis).

Berbentuk batang pendek dan melengkung/bengkok (Vibrio), batang panjang halus berupa filamen (H. influenzae) dan ada pula bentuk  batang teratur menyerupai rantai (H.ducreyi).

Bakteri yang terlihat bervariasi dalam ukuran dan bentuk disebut pleomorphic (Legionella).

  1. 3.    Spirokhaeta (spiral)

Berbentuk spiral halus, elastis dan fleksibel sehingga dapat bergerak dengan aksial filamen, contoh :

  1. Borrelia, berbentuk gelombang yang agar besar (gelombang kasar)
  2. Treponema, berbentuk gelombang yang halus dan teratur
  3. Leptospira, berbentuk spiral dengan lekukan yang agak berjauhan satu dengan lainnya, serta ada kait (huruf c) pada satu atau kedua ujungnya

 

  1. E.   Fisiologi dan Pertumbuhan Bakteri

Pada umumnya semua bakteri memerlukan tiga kelompok nutrien untuk pertumbuhannya:

  1. Sumber karbon, sebagai pembentukan konsituen sel
  2. Sumber nitrogen, untuk membuat protein
  3. Sumber energi, memegang peranan dalam fungsi seluler

Berdasarkan kebutuhan bakteri terhadap nutrien, maka bakteri dikelompokkan dalam 2 kelompok besar :

  1. 1.    Bakteri autotrof (litotrof)

Yaitu kelompok bakteri yang hanya memerlukan air, garam inorganik dan CO2 sebagai sumber karbon dalam pertumbuhannya, mensintesa sebagian besar metabolik organiknya dari CO2.

Kelompok bakteri ini memperoleh energi dari cahaya atau oksidasi bahan kimia, yang hanya memperoleh cahaya sebagai sumber energi disebut autotrof fotosintetik (fotolitotrof), sedangkan yang hanya memperoleh energi dari oksidasi senyawa inorganik seperti Fe, S, NH3, dan NO2 disebut autotrof kemosintetik (kemolitotrof).

  1. Bakteri heterotrof (organotrof)

Bakteri ini memerlukan karbon dalam bentuk senyawa organik terutama karbohidat untuk pertumbuhannya dan memperoleh energi dari oksidasi atau fermentasi bahan-bahan organik. Sering bahan yang sama misalnya glukosa digunakan sebagai sumber karbon dan sumber energi serta semua jenis bakteri yang patogen bagi manusia termasuk dalam kelompok ini Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa dapat menggunakan bermacam-macam senyawa organik sebagai sumber karbon, oleh sebab itu kedua jenis bakteri ini dapat tumbuh pada pembenihan yang sederhana dengan baik. Untuk pertumbuhan bakteri heterotrof ada beberapa faktor yang dibutuhkan :

  1. Oksigen

Bakteri dapat dikelompokkan atas beberapa golongan berdasarkan kebutuhannya terhadap oksigen yaitu :

1)    Aerob obligat, bakteri yang mutlak membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya

2)    Anaerob obligat, bakteri yang dapat hidup tanpa oksigen

3)    Anaerob fakultatif, bakteri yang dapat tumbuh dengan atau tanpa oksigen

4)    Mikroaerofilik, bakteri yang hanya dapat tumbuh dalam tekanan oksigen yang rendah dengan kadar karbon dioksida 5 – 10%.

  1. Temperatur

Sesuai dengan kebutuhan temperatur maka bakteri dikelompokkan kedalam:

1)    Psikhrofilik, dapat tumbuh antara suhu -5 s/d 30°C (optimun 10 – 20°C)

2)    Mesofilik, dapat tumbuh antara suhu 10 – 45 °C (optimun 20 – 40 °C)

3)    Termofilik, dapat tumbuh 25 – 80° C (Optimun 50 – 60°C)

 Umumnya bakteri patogen pada manusia tergolong dalam mesofilik yang tumbuh naik pada suhu 35°Cc atau 37°C.

Temperatur optimun adalah merupakan refleksi dari lingkungan normal organisme tersebut dan salah satu contoh adalah pembiakan M.leprae, setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan, akhirnya dapat dibiakkan pada telapak kaki mencit yang mempunyai suhu badan rendah.

  1. pH dan potensial oksidasi-reduksi (Eh)

pH dan Eh suatu perbenihan merupakan faktor yang penting dari suatu perbenihan untuk menunjang pertumbuhan bakteri secara optimal.

Eh kebanyakan perbenihan jika berkontak dengan udara adalah sekitar 2 s/d 4 volt pada pH 7,0, sedangkan pH optimun untuk suatu perbenihan berkisar 7,2 – 7,6.

Meskipun pada awalnya pH perbenihan sangat cocok dengan pertumbuhan bakteri, untuk pertumbuhan selanjutnya akan terganggu karena adanya produk metabolisme bakteri itu sendiri yang akan merubah pH misalnya menjadi asam.

Vibrio adalah golongan bakteri yang dapat tumbuh dengan subur pada pH alkali, sehingga dasar ini dapat dijadikan penghambat pada pembenihan pemupuk/selektif untuk bakteri ini. Bakteri anaerob tidak mungkin tumbuh kecuali jika Eh perbenihan mencapai 2 volt, dan cara untuk memperoleh suasana anaerob dalam perbenihan adalah dengan cara mengisap oksigen atau dengan jalan memasukkan senyawa yang mengandung sulfihidril seperti Na.tioglikolat kedalam perbenihan tersebut.

  1. Kekuatan ion dan tekanan osmotik

Konsentrasi  ram dan tekanan osmotik adalah hal yang pelru dicermati dalam suatu perbenihan, karena ada jenis bakteri tertentu memerlukan kadar garam yang tinggi, misalnya bakteri yang berasal dari air laut atau mikroba lain yang memerlukan kadar gula yang tinggi. Bakteri yang memerlukan kadar garam yang tinggi dalam pertumbuhannya disebut halofilik, sedangkan yang membutuhkan tekanan osmotik yang tinggi disebut osmofilik.

 

  1. F.    REPRODUKSI BAKTERI
  2. 1.    Reproduksi secara Aseksual  

Reproduksi secara aseksual ini meliputi :

  1. Pembelahan

Bakteri berkembang biak secara amitosis yaitu dengan membelah menjadi 2 bagian (binary fission).

Waktu antara 2 pembelahan disebut generation time dan ini berbeda untuk tiap jenis bakteri karena bervariasi antara 20 menit sampai 15 jam.

Mycobacterium tuberculosis tumbuhnya lambat karena generation timenya adalah 15 jam.

  1. Pembentukan tunas/cabang

Reproduksi dengan pembentukan cabang diawali dengan pembentukan tunas yang tumbuh menjadi cabang dan akhirnya melepaskan diri/membentuk bakteri baru.

Famili Streptomycetaceae adalah golongan bakteri yang mengadakan reproduksi dengan cara ini.

  1. Pembentukan Filamen

Serabut panjang (filamen) yang dikeluarkan oleh bakteri dari bahan kromosom, yang berupa filamen terputus-putus menjadi beberapa bagian dimana tiap bagian menjadi satu sel bakteri.

Hal ini dijumpai terutama dalam keadaan abnormal, misalnya Haemophilus influenzae yang dibiakkan dalam pembenihan yang basah.

  1. 2.    Reproduksi secara seksual

Didahului dengan peleburan kromosom antara 2 bakteri menjadi satu selanjutnya membelah sehingga timbul sel-sel bakteri dengan sifat-sifat yang berasal dari kedua sel induknya.

Fermentasi dapat dilakukan oleh baik bakteri anaerob obligat maupun oleh bakteri anaerob fakultatif karena terjadi dalam keadaan anaerob, sedangkan respirasi terjadi dalam keadaan aerob.

  1. 1.    Utilisasi anarobik terhadap asam piruvat (fermentasi)

Bakteri memproses asam piruvat melalui beberapa cara fermentasi, dan setiap cara ini menghasilkan end products (hasil akhir) yang berbeda.

Melalui cara fermentasi yang dilakukan oleh mikroba yang biasa terjadi dalam tubuh manusia adalah sebagai berikut :

  1. Fermentasi alkoholik

Fermentasi ini biasanya oleh yeasts dengan memfermentasikan glukose dan sebagai hasil akhir adalah etanol.

  1. Fermentasi homolaktik

Sebagai hasil akhir umumnya adalah asam laktat; semua jenis Streptococcus dan umumnya anggota dari jenis Lactobacillus memfermentasikan piruvat melalui cara ini.

  1. Fermentasi heterolaktik

Sebagian jenis lactobacilli melakukan fermentasi dengan cara ini, sehingga sebagai hasil akhir adalah berupa alkohol, asam folat, asam asetat dan CO2 dimana hal ini terjadi kkarena adanya asam laktat.

  1. Fermentasi asam propionat

Fermentasi ini dapat  dilakukan oleh Propionibbacterium acne dan beberapa bakteri anaerob basil gram positif non-spora-forming.

Sebagai hasil akhir dari reaksi biokimia ini adalah asam propanat.

  1. Fermentasi asam campuran

Anggota dari Escherichia, Salmonella dan Shigella dari Enterobacteriaceae dalam memfermentasikan glukose dapat menghasilkan sejumlah asam seperti asam laktat, suksinat dan asam format.

Hasil akhir yang merupakan asam kuat dijadikan dasar pada reaksi positif dari methyl red test.

  1. Fermentasi butanediol

Sebagai hasil akhir dari reaksi ini adalah acetoin (acethyl methyl carbinol) dan 2,3 – butanediol, berarti hanya sedikit asam yang diproduksi.

Deteksi acetoin adalah sebagai dasar reaksi positif dari Voges Proskauer test, dengan adanya asam yang jumlahnya sedikit.

Bakteri yang sapat melakukan fermentasi melalui cara ini adalah jenis Klebsiella, Enterobacter dan Serratia.

  1. Fermentasi asam butirat

Bakteri anaerob obligat tertentu termasuk banyak dari jenis Clostridium

, Fusobactrium dan Eubacterium memproduksi asam butirat sebagai hasil akhir yang penting disamping asam asetat, gas karbon diaksid dan hydrogen.

  1. 2.    Utilisasi aerobik terhadap piruvat (Oksidasi)

Melalui proses  respirasi, glikolisis diteruskan hingga piruvat terurai menjadi CO2 dan H2O serta energi yang dilepaskan diikat dalam bentuk ATP (Adenosin triphosphate).

Oksidasi  substrat yang dipakai adalah melalui siklus TCA (tricarboxilic acid) dari Krebs, dimana O2 berfungsi sebagai reseptor H.

Urutan sistem enzim yang dipakai dalam transpor zat H ke O2 dalam rantai respirasi adalah flavoprotein-sitokrom b- sitokrom c-sitokrom a- O2.

Kemampuan dari bakteri umum memanfaatkan bermacam-macam karbohidrat untuk pertumbuhannya dapat dideteksi dengan adanya produksi asam dengan pH indikator yang memperlihatkan adanya perubahan warna.

Salah satu hal yang penting dalam mengelompokkan anggota Enterobacteriaceae adalah kemampuan dari bakteri tersebut memfermentasikan laktose, sehingga dikenal istilah lactose fermenter dan lactose nonfermenter.

Ada 2 tahap yang dilakukan oleh bakteri untuk memfermaentasikan laktose tersebut yaitu: membutuhkan enzim beta-galaktoside permease untuk mentranspor laktose melalui dinding sel masuk kedalam sitoplasma, dan didalam sitoplasma membutuhkan enzim beta-galaktosidase untuk menguraikan ikatan galaktosida menjadi glukose yang kemudian difermentasikannya.

Ini berarti bahwa sebagian anggota Enterobacteriaceae dapat memfermentasikan laktose dan dapat pula memfermentasikan glukose.

 

  1. G.   Media Untuk Pertumbuhan Bakteri

Media atau perbenihan adalah bahan yang digunakan untuk memperkambang biakan bakteri di laboratorium secara invitro.

Perbenihan yang digunakan di Laboratorium bakteriologi dapat dibagi atas beberapa jenis berdasarkan :

  1. 1.    Kegunaannya
    1. Perbenihan sederhana

Perbenihan ini disebut pula minimal medium, hanya mengandung zat/bahan yang sederhana, sehingga untuk keperluan diagnostik tidak digunakan di laboratorium, misalnya air kaldu.

  1. Nutrient Media

Adalah perbenihan yang lebih kompleks karena telah ditambahkan ekstraks daging atau bahan tertentu kedalamnya, misalnya Nutrient broth dan Trypticase soy broth.

  1. Enriched Media

Perbenihan ini telah ditambahkan faktor-faktor pertumbuhan seperti darah, vitamin, ekstrak ragi dll, sehingga bakteri sulit ditumbuhkan dapat dibiak pada perbenihan ini; misalnya Agra darah dan Agar coklat.

  1. Selective Media

Pada perbenihan ini hanya bakteri tertentu yang bisa tumbuh dengan baik, sedangkan bakteri lainnya dapat menghambat pertumbuhannya, karen telah ditambahkan zat/bahan tertentu yang bersifat menghambat; misalnya Mac.Conkey Agar dan Salmonella Shigella Agar.

  1. Differensial Media

Yaitu media yang dapat memperlihatkan perbedaan hasil metabolik sebagi akibat pertumbuhan bakteri pada pertumbuhan tersebut, sehingga dapat dibedakan elompok atau spesies dari bakteri yang bersangkutan; misalnya KIA, MR-VP medium dn LIA medium.

  1. Transport Medium

Untuk mencegah agar bakteri yang ada dalam spesimen tidak mati dan tidak mengadakan multiplikasi, digunakanlah transport media; misalnya Stuart medium, Amies medium dan Cary-Blair transport medium.

Agar bakteri yang diinginkan dapat  tumbuh dengan baik, sedanggkan bakteri lainnya bisa terhambat, maka dapat digunakan medium pemupuk, misalnya Alkali pepton water, Selenite broth dan GN broth.

  1. 2.    Bentuknya
    1. Perbenihan Padat

Perbenihan padat ini umumnya mengandung 1,5% agar, ada yang didalam cawang petri (agar plat), dalam tabung posisi miring tanpa dasar (Simmont citrate agar), dalam tabung posisi miring ada dasar (KIA atau TSIA).

  1. Perbenihan semi solid

Untuk mengetahui pergerakan suatu bakteri dapat digunakan perbenihan semi solid, misalnya SIM dan MIO medium.

Konsentrasi agar yang digunakan berkisar antara 0,1 – 0,5 % dengan penambahan bahan tertentu untuk mengetahui sifat-sifat bakteri yang kita ketahui.

  1. Perbenihan cair

Perbenihan  ini tidak mengandung agar sama sekali, misalnya Nutrient broth, Urea broth, Trypticase soy broth dan Mueller hinton broth.

Berikut ini adalah beberapa jenis perbenihan yang sering digunakan di Laboratorium Bakteriologi :

1)    Agar darah

Perbenihan ini digunakan untuk isolasi dan sekaligus mengetahui sifat hemolisis suatu bakteri, sehingga pertumbuhan bakteri pada perbenihan ini dikenal adanya bakteri hemolitik, nonhemolitik dan hemolitik persial.

Sebagai bahan dasar dari agar darah ini dapat digunakan Blood Agar Base, Brain Heart Infusion Agar, Trypticase Soy Agar, yang ditambahkan 5 – 8 % darah domba steril yang bebas fibrin.

2)    Mac Conkey Agar

Perbenihan ini bersifat selektif untuk basil gram negatif baik Enterobacteriaceae maupun yang nonfermented basil gram negatif, sedangkan bakteri lainnya umumnya tidak tumbuh atau tumbuh dengan tidak subur.

Bakteri yang memfermentasikan laktose akan memperlihatkan koloni yang berwarna merah, karena adanya indikator netral red, sedangkan yang tidak memfermentasikan laktose koloninya tak berwarna karena pH medium tidak berubah (tetap basah).

3)    Salmonella Shigella Agr

Perbenihan ini mirip dengan Mc. Conkey Agar, hanya penggunaannya lebih khusus lagi untuk basil gram negatif patogen enterik, sehingga dipakai untuk isolasi dari spesimen tinja terutama, Salmonella dan Shigella yang keduanya memperlihatkan pertumbuhan koloni yang tak berwarna.

Sebagai bahan penghambat utama adalah garam empedu dan brilian green yang tidak hanya menghambat bakteri garam positif saja tetapi meneekan pertumbuhan basil patogen nonenterik lainnya.

4)    Endo Agar

Endo agar mirip pula dengan Mac. Conkey agar, dan lebih banyak digunakan untuk mengetahui adanya coliform yang memfermentasikan laktose, sehingga koloninya terlihat berwarna merah.

Perbenihan selektif ini menggunakan natrium sulfit dan basis fuchsin sebagai bahan penghambat terhadap bakteri gram positif.

5)    G N Broth (Hajna)

Perbenihan ini adalah bentuk cair dan merupakan medium pemupuk untuk basil gram negatif, dapat digunakan untuk bermacam-macam sampel/spesimen seperti, bahan makanan/minuman, tinja, darah dan lain sebagainya.

Perpaduan antara natrium deoksikolat dan natrium sitrat dapat menghambat pertumbuhan bakteri gram positif.

6)     Kliger Iron Agar

Merupakan differensial medium untuk golongan Enterobacteeriaceae non fermentated basil gram negatif lainnya.

Kemampuan bakteri memfermentasikan dekstrose dan laktose serta kemampuan memproduksi hydrogen sulfida adalah merupakan dasar untuk mengetahui jenis bakteri tertentu dari pertumbuhannya dalam medium ini.

Adapun sifat pertumbuhan bakteri pada TSIA/KIA adalah sebagai berikut :

a)    Lereng kuning, dasar kuning tanpa H2S

b)    Lereng kuning, dasar kuning dengan H2S

c)    Lereng merah, dasar kuning dengan H2S

d)    Lereng merah, dasar kuning tanpa H2S

e)    Lereng merah, dasar merah (tidak ada perubahan warna)

Perubahan pH karena adanya fermentasi menyebabkan terjadinya warna kuning dengn adanya indikator phenol red.

Jika hanya dektrose yang difermentasi maka dasarnya saja yang berwarna kuning, tetapi jika baik dektrose maupun laktose keduanya difermentasi maka dasar dan kereng keduanya berwarna kuning.

Terbentuknya H2S adalah berasal dari natrium tiosulfat dan ferric ammonium citrate sebagi sumber sulfur.

7)    MR-VP Medium

Kemampuan dari beberapa jenis bakteri untuk memproduksi asam yang kuat sebagai hasil fermentasi dari dektrose dalam medium ini, yang dapat ditunjukkan dengan penambahan reagen methyl red.

Sedangkan sekelompok bakteri tertentu dapat memproduksi acetyl methyl carbinol dari meat casein polypeptone (hanya sedikit asam) yang dapat diketahui dengan penambahan reagen Voges Proskauer.

8)    Nitrate Broth

Medium diferensial ini digunakan untuk mengetahui jenis bakteri yang dapat mereduksi nitrat menjadi nitrit yang selanjutnya bereaksi dengan α – naphthylamine sehingga terbentuk warna merah.

9)    SIM medium

SIM medium adalah perbenihan semisolid yang dapat digunakan untuk mengetahui pembentukan H2S, indol dan motility dari bakteri.

Adanya H2S dalam perbenihan ini prinsipnya sama dengan medium TSIA/KIA dan pembentukan indol berasal dari tryptophane, sedangkan pergerakan bakteri dapat dilihat penyebarannya karena medium dalam keadaan semi solid (kadar agar 0,35%).

10) Simmons Citrate Agar

Bakteri yang memanfaatkan sitrat sebagai sumber karbon akan menghasilkan natrium karbonat yang bersifat alkali, sehingga dengan adanya indicator brom thymol blue menyebabkan terjadinya warna biru.

11) Lysin Iron Agar

Pada perbenihan diferensial ini kemampuan suatu bakteri memproduksi lysine decarboxilase dapat diketahui dan juga H2S.

Lysin iron agar adalah semi miring seperti TSIA/KIA berarti ada dasar dan lerengnya, mengandung dekstrose dan L-lysine sebagai unsure utama serta brom cresol purple sebagai indicator.

Jika bakteri hanya memfermentasikan dektrose maka dasarnya akan berwarna kuning, tetapi bakteri yang memfermentasikan dekstrose serta mendekarboksilase L-lysine, maka pH akan kembali menjadi alkali sehingga terlihat medium secara keseluruhan berwarna violet dengan adanya indicator brom cresol purple.

12) Urea Agar/Broth

Bakteri tertentu dapat menghidrolise urea dan membentuk ammonia dengan menimbulkan warna merah karena indicator phenol red, adalah prinsip dasar dari perbenihan Urea agar/broth ini (terbentuknya ammonia menyebabkan pH menjadi alkali).

13) Perbenihan gua-gula

Untuk melihat kemampuan bakteri memfermentasikan jenis karbohidrat tertentu, digunakan perbenihan gula-gula, yaitu perbenihan cair yang mengandung satu jenis karbohidrat (kadarnya 1%) dengan indicator phenol red atau brom cresol blue.

Jika terjadi fermentasi, medium terlihat berwarna kuning karena perubahan pH menjadi asam.

 

  1. H.   Pengambilan dan Penanganan Spesimen untuk Pemeriksaan Bakteriologis

Untuk berhasilnya suatu pemeriksaan bakteriologis, maka faktor pengambilan specimen adalah suatu tahap yang sangat penting karena  jika tahap ini tidak benar hasil yang akan diperoleh bias menjadi positif palsu atau negative palsu.

Hal-hal ini perlu diperhatikan dalam tahap pengambilan dan penanganan spesimen sebagai berikut :

  1. Semua alat/bahan yang digunakan harus steril dan diperlakukan secara aseptic.
  2. Bahan yang diambil harus tepat lokasi, dan jumlahnya cukup.
  3. Wadah penampungan harus bertutup dari bahan yang tidak meresap.
  4. Jangan menggunakan bahan disinfektan untuk mengsteril alat yang digunakan terutama wadah penampungan.
  5. Specimen yang diambil dengan kapas lidi langsung dimasukkan ke dalam medium transport.
  6. Sebaiknya penderita tidak mengkonsumsi antibiotik sebelum pengambilan dilakukan.
    1. Specimen yang telah di ambil segera dikirim ke laboratorium yang disertai label/ keterangan berupa; nama pasien, umur, jenis kelamin, jenis specimen, jenis pemeriksaan yang diminta, tanggal pengambilan/pengiriman, nama/alamat pengirim, riwayat penyakit serta hal-hal yang dianggap perlu.

Specimen yang biasanya dibutuhkan sebagai bahan pemeriksaan :

  1. Urin

Urin yang dibutuhkan adalah urin porsi tengah, dengan cara pengambilan :

  1. Pada laki-laki

1)    Daerah glans penis sekitar lubang kencing dibersihkan dengan sabun dan air bersih

2)    Urin yang keluar pertama kali sekitar 5 ml dibuang, urin berikutnya ditampung kira-kira 10 ml, yang langsung dimasukkan ke dalam wadah yang steril dengan syarat jangan terlalu penuh.

3)    Tutup rapat, beri label dan segera kirim ke laboratorium kalau perlu dalam keadaan dingin.

  1. Pada perempuan

1)    Daerah vulva dibersihkan dengan sabun dan dicuci dengan air bersih

2)    Selajutnya sama dengan pengambilan pada laki-laki

Bakteri yang diisolasi dari urin adalah :

1)    Enterobacteriaceae

2)    Basil gram negatif non fermented

3)    Staphylococcus sp

4)    Lactobacillus sp

5)    Corynebacterium sp

6)    Neisseria sp

7)    Propionibacterium sp dan lain-lain

  1. Darah

Darah diambil dengan menggunakan siring steril secara aseptik 2 – 5 ml pada vena kubiti dan langsung dimasukkan kedalam perbenihan broth dengan perbandingan 1 : 9, segera kirim ke laboratorium (tidak perlu dalam keadaan dingin)

Bakteri yang dapat diisolasi dari darah adalah :

  1. Enterobanteriaceae, terutama Klebsiella sp, Enterobacter sp, Proteus sp, Salmonella sp
  2. Basil gram negatif non Enterobacteriaceae (nonfermented)
  3. Neisseria sp
  4. Morasella sp
  5. Staphylococcus sp
  6. Streptococcus sp
  7. Enterococcus sp
  8. Corynebacterium sp
  9. Bacteroides sp
  10. Gram negatif anaerob lainnya
  11. Chlostridium sp
  12. Peptostreptococcus sp
  13. Gram positif anaerob lainnya
  14. Listeria sp
  15. Lactobacillus sp
  16. Lactobacillus sp
  17. Actinomyces sp
  18. Propionibacterium sp
  19. Dan lain-lain
    1.  Liquor

Spesimen liquor biasanya diambil oleh dokter ahli secara aseptik, langsung ditampung dalam wadah yang steril minimal 2 ml, di label dan segera dikirim ke laboratorium sebaiknya dalam keadaan dingin.

Adapun bakteri yang biasa diisolasi dari spesimen liquor ini adalah :

  1. Mycobacterium tuberculosis
  2. Neisseria sp
  3. Staphylococcus sp
  4. Haemophylus influenzae
  5. Streptococcus sp
  6. Salmonella sp dan basil gram negatif lainnya
  7. Listeria monocytogenes
  8. Nocardia sp
  9. Actinomyces sp
  10. Treponema pallidum, dll
    1. Sputum

Penderita terlebih dahulu berkumur-kumur dengan air bersih kalau perlu air steril, kemudian dahak diambil dengan jalan mengekspektorasi sputum (bukan air liur) kedalam wadah yang steril, dilabel dan segera kirim ke laboratorium.

Sputum yang baik terlihat kuning kehijau-hijauan, mukopuralen dan kental. Bakteri yang patogen dan mungkin ditemukan pada sputum penderita adalah :

  1. Mycobacterium sp
  2. Streptococcus sp
  3. Staphylococcus sp
  4. Haemophilus sp
  5. Neisseria sp
  6. Morasella sp
  7. Actomyces sp
  8. Acinetobacter sp
  9. Enterobacteriaceae
  10. Nonfermented basil gram negatif
  11. Corynebacterium sp
  12. Bacteriodes sp
  13. Peptostreptococcus sp
  14. Dan lain-lain

 

  1. Hapusan tenggorokan

Dengan menggunakan spatel lidah, lidah ditekan kebawah kemudian kapas lidi yang terlebih dahulu dibasahi dengan salin steril, dihapuskan pada daerah faring terutama daerah yang ada lesi, untuk memperoleh sekret.

Pada pengambilan ini digunakan minimal 2 batang kapas lidi yang setelah pengambilan langsung dimasukkan ke dalam transpor misalnya medium Stuart.

Bakteri yang mungkin diisolasi dari hapusan tenggorokan relatif sama dengan yang ada pada spesimen sputum.

  1. Nanah

Luka yang terbuka terlebih dahulu dibersihkan dengan salin steril, kemudian nanah diambil dengan kapas lidi steril yang terlebih dahulu dibasahi dengan salin (gunakan minimal 2 kapas lidi) yang langsung dimasukkan kedalam medium transpor.

Sedangkan luka yang tertutup diambil dengan memakai spoit steril secara aseptik dan ditampung dalam wadah yang steril serta segera dikirim ke laboratorium.

Bakteri yang biasa diisolasi dari nanah adalah :

  1. Staphylococcus sp
  2. Steptococcus sp
  3. Enterococcus sp
  4. Enterobacteriaceae
  5. Nonfermented basil gram negatif
  6. Bacterides sp
  7. Fusobacterium sp
  8. Clostridium sp
  9. Peptostreptococcus sp
  10. Dan lain-lain
    1. Sekret alat kelamin
    2. Sekret uretra laki-laki

Glans penis terlebih dahulu dibersihkan dengan detergen ringan dan air, kemudian orificium uretrhra externa dibersihkan dengan kapas lidi yang dibasahi salin steril.

Dengan kapas lidi khusus dimasukkan kedalam urethra sedalam kira-kira 2 cm yang diputar perlahan selama 2 detik untuk memperoleh sekret (digunakan 2 kapas lidi). Segera setelah pengambilan, kapas lidi tersebut dimasukkan kedalam medium transpor.

  1. Sekret prostat laki-laki

Terlebih dahulu glans penis dibersihkan dengan detergen ringan dan air, kemudian orificium urethra externa dibersihkan dengan salin steril.

Penderita dalam keadaan posisi lithotomic dilakukan toucher rectal, dilakukan pemijitan perlahan-lahan pada prostat sampai keluar cairan melalui orificium uretra externum dan cairan ini ditampung pada 2 kapas lidi steril yang selanjutnya dicelupkan kedalam medium transpor dan segera dikirim ke laboratorium.

  1. Sekret endoserviks wanita

Daerah vulva dibersihkan dengan air bersih, kemudian spekulum steril dipasang pada daerah porsio dan orificium cervicalis dibersihkan dengan kain kasa steril.

Kapas lidi steril dimasukkan secara perlahan kedalam canalis cervicalis kira-kira 2 cm sambil putar perlahan (gunakan 2 kapas lidi).

Kedua kapas lidi tersebut langsung dimasukkan kedalam medium transpor untuk selanjutnya dikirim ke laboratorium.

Adapun jenis bakteri yang mungkin diisolasi dari sekret alat kelamin adalah :

  1. Neisseria gonorrhoeae
  2. Neisseria meningitidis
  3. Gardnerella vaginalis
  4. Haemopilus ducreyi
  5. Chlamidia trachomatis
  6. Mycoplasma hominis
  7. Mycoplasma genitalum
  8. Ureaplasma urealyticum, dll
  9. Tinja dan Usap Dubur

Tinja yang masih segar diambil dengan 2 kapas lidi steril kemudian dimasukkan ke dalam medium transpor misalnya Cary Blair.

Jika Tinja segar sulit diperoleh maka dilakukan pengambilan usap dubur dengan cara penderita dalam keadaan menungging, kepala lebih rendah dari lutut.

Bagian luar dari dubur dibersihkan dengan salin, kemudian dengan kapas lidi steril yang terlebih dahulu dibasahi dengan salin, dimasukkan ke dalam dubur secara hati-hati sambil memutar menurut arah jarum jam dengan kedalaman 2 – 4 cm dan pada waktu mengeluarkan kapas tersebut tetap diputar sambil menarik keluar (digunakan 2 kapas lidi).

Kedua kapas lidi tersebut dimasukkan kedalam medium transpor, dilabel dan segera kirim ke laboratorium.

Bakteri yang biasa diisolasi dari spesimen tinja dan usap dubur adalah :

  1. Vibria sp
  2. Salmonella sp
  3. Echerichia coli (EPEC,ETEC,EIEC,EHEC & EAEC)
  4. Shigella sp
  5. Campylobacter sp
  6. Bacillus cereus
  7. Clostridium botulinum

 

  1. I.      Pemeriksaan Mikroskopis Terhadap Bakteri

Untuk melihat bentuk-bentuk bakteri dan sifatnya terhadap pengecatan maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah membuat sediaan yang dapat dilakukan dengan cara :

  1. 1.    Membuat sediaan dari spesimen/perbenihan cair

Dengan sengkelit yang telah disteril pada nyala api dan telah dingin, spesimen/perbenihan cair diambil, lalu dioleskan pada permukaan bagian tengah dari sebuah kaca objek yang bersih dan kering sedemikian rupa sehingga diperoleh sediaan yang agak tipis, rata dengan ukuran 2 x 2 cm, kemudian dikeringkan pada udara terbuka yang tidak langsung berhubungan dengan sinar matahari.

  1. 2.    Membuat sediaan dari perbenihan padat

Terlebih dahulu satu mata sengkelit (ose) salin diletakkan pada permukaan bagian tengah dari suatu kaca objek, kemudian dengan ose steril dan dingin koloni/pertumbuhan bakteri diambil sedikit dengan ose tadi, yang selanjutnya dicampur dan dioleskan sedemikian rupa pada salin tadi sehingga diperoleh sediaan yang agak tipis, rata dengan ukuran 2 x 2 cm.

Sediaan dikeringkan pada suhu kamar yang terhindar dari cahaya matahari langsung. Sediaan yang telah kering terlebih dahulu difiksasi melalui nyala api 3 kali dimana permukaan sediaan berada sebelah atas waktu fiksasi.

Tujuan fiksasi adalah :

  1. Melekatkan sediaan pada kaca objek
  2. Mematikan bakteri dengan segera
  3. Mempermudah dicat
  4. Sediaan tahan untuk disimpan jika belum sempat dicat

Adapun pengecatan sediaan yang sering dilakukan di laboratorium bakteriologis adalah :

  1. 1.    Pengecatan Gram

Maksud dari pengecatan ini adalah untuk mengetahui bentuk dan sifat bakteri terhadap pengecatan gram, yang berwarna merah termasuk kelompok bakteri yang gram negatif sedangkan yang berwarna ungu adalah kelompok bakteri yang bersifat gram positif.

  1. Persiapan

1)    Sediaan yang ingin dicat

2)    Larutan karbol gentian/kristal violet :

  1. Kristal/gentian violet                          1 gr
  2. Alkohol 95%                         10 ml
  3. Air suling                               87 ml
  4. Fenol                                        3 ml

Kristal/gentian violet digerus dalam mortar sampai hancur, kemudian dilarutkan dala alkohol dan dtambahkan air suling dan fenol, selanjutnya laturan ini disaring dengan kertas saring kedalam botol yang berwarna dan disimpan pada tempat yang gelap.

3)    Alkohol 95%

4)    Larutan Lugol :

a)    Iodium kristal                            1 gr

b)    Kalium yodida              2 gr

c)    Air Suling                  300 ml

Yodium dan kalium yodida digerus bersama dalam mortar dan ditambahkan sedikit demi sedikit sambil digerus sampai larut.

Larutan ini disaring kedalam botol yang berwarna dan sisa air suling dimasukkan semuanya melalui saringan tadi.

5)    Larutan air fuchsin :

a)    Basic fuchsin                         1 gr

b)    Alkohol 95%             10 ml

c)    Air suling                   90 ml

Basic fuchsin digerus dalam mortar sampai hancur, dilarutkan dalam alkohol kemudian air suling ditambahkan selanjutnya saring kedalam botol yang berwarna.

  1. Cara pengecatan dan pembacaan hasil

1)    Sediaan yang telah difiksasi dan dingin, dicat dengan larutan karbol gentian/kristal violet selama 1 menit

2)    Zat warna dibuang dan diganti dengan larutan lugol selama 1 menit

3)    Larutan zat warna dibuang dan sediaan dicuci dengan alkohol 96% sampai semua zat warna keluar

4)    Sediaan dicuci dengan air

5)    Sediaan dicat dengan larutan fuchsin selama 30 detik

6)    Sediaan dikeringkan, kemudian diperiksa pada mikroskop dengan memakai lensa imersi (lensa objektif 100 x)

7)    Diperiksa minimal 100 lapangan pandang, dilaporkan bentuk dan sifat bakteri terhadap pengecatan Gram serta jumlah bakteri secara semi kuantitatif.

Negatif (-)                        : Tidak ditemukan bakteri

+                            : Jumlah bakteri kurang dari 100 dalam 100 LP

++                          : Jumlah bakteri antara 100 – 200 dalam 100 LP

+++                       : Jumlah bakteri antara 201 – 300 dalam 100 LP

++++                     : Jumlah bakteri lebih dari 300 dalam 100 LP

Untuk bahan dari sekret alat kelamin, maka Diflokokus gram negatif  yang ada dilaporkan apakah intra atau ekstraseluler, sedangkan Clue Cell yang ada dilaporkan dalam jumlah persentase, sedangkan untuk spesimen sputum jumlah dilaporkan rata-ratanya per lapangan pandang (objektif 10 x dan okuler 10x).

  1. 2.    Pengecatan Ziehl Neelsen

Untuk melihat basil tahan asam (BTA), terutama M.tuberculosis dan M.leprae yang terlihat berbentuk batang merah dengan latar belakang yang berwarna biru, dilakukan pengecatan Ziehl Neelsen.

  1. Persiapan

1)    Sediaan yang akan dicat

Untuk spesimen sputum dibuat sediaan yang berukuran 2 x 3 cm, sedangkan spesimen dari reitz serum dibuat sediaan dengan ukuran 1 x 1,5 cm, yang langsung diambil dari penderita. Ketentuan lainnya sama dengan sediaan secara umum.

2)    Larutan Karbol fuchsin :

a)    Basic fuchsin                         0,3 gr

b)    Alkohol 95%             10 ml

c)    Air suling                   85 ml

d)    Fenol                            5 ml

Basic fuchsin digerus dalam mortar sampai hancur, kemudian dilarutkan dalam alkohol, ditambahkan air suling dan fenol, kocok dan saring kedalam botol yang berwarna.

3)    HCl – alkohol 3% atau asam sulfat 20 – 25%

a)    HCl pekat                    3 ml

b)    Air suling                   97 ml

4)    Larutan air methylene blue :

a)    Methylene blue            0,1 gr

b)    Air suling                   100 ml

Methylene blue digerus dalam mortar sampai hancur, tambahkan sedikit air suling sambil digerus hingga methylene blue larut betul.

Cukupkan volume menjadi 100 ml dan saring kedalam botol yang berwarna.

  1. Cara pengecatan dan pembacaan hasil

1)    Sediaan dicat dengan karbol fuchsin sampai menutupi seluruh permukaan kaca objek

2)    Dengan api kecil kaca objek dipanasi dari bawah sampai zat warna menguap (tidak boleh mendidih); hal ini dilakukan 3 kali dalam waktu 5 menit

3)    Zat warna dibuang dan sediaan dicuci dengan air kemudian dilunturkan dengan HCLl-Alkohol 3% (untuk M.leprae dipakai HCl-alkohol 1%) sampai semua zat warna keluar dari sediaan

4)    Sediaan dicuci air kemudian dicat dengan air methylene blue selama 2o detik

5)    Sediaan dicuci air, dikeringka dan diperiksa minimal 100 LP dan hasil dilaporkan :

a)    Untuk BTA M.tuberculosis

      Negatif (-)      : Tidak ditemukan atau hanya 1 – 3 BTA dalam 100 LP

+                      : Ditemukan antara 4 – 9 BTA dalam 100 LP

++                    : Ditemukan 10 – 99 BTA dalam 100 LP

+++                 : Ditemukan rata-rata lebih dari 1 BTA tiap LP

++++               : Jumlah bakteri lebih dari 300 dalam 100 LP

b)    Untuk BTA M.leprae

(-)                    : Tidak ditemukan Bta dalam 100 LP

(1+)                 : Ditemukan antara 1 – 10 BTA dalam 100 LP

(2+)                 : Ditemukan 1 – 10  BTA dalam 10 LP

(3+)                 : Ditemukan 1 – 10 BTA pada setiap LP

(4+)                 : Ditemukan 10 – 99 BTA pada setiap LP

(5+)                 : Ditemukan 100 – 1000 BTA pada setiapp LP

(6+)                 : Ditemukan lebih dari 1000 BTA pada setiap LP

 

Catatan :        1 glubus kecil           :   40 – 60 BTA

                        1 globus besar          : 200 – 300 BTA

                        1 clump                      : lebih dari 500 BTA

Disamping pengecatan Ziehl Neelsen sering digunakan pula pengecatan Kinyoun untuk basil tahan asam yang prosedurnya hampir sama, hanya pengecatan Kinyounn tidak perlu lagi dipanasi dengan kadar basis fuchsin tinggi (0,5 – 1 %) dan kadar fenol 8% bukan 5% seperti pada pengecatan Ziehl Neelsen.

  1. 3.    Pengecatan Neisser

Pengecatan ini digunakan untuk melihat bentuk-bentuk Corynebacterium diphtheriae, yaitu berbentuk batang halus dengan butir volutin yang terletak pada kedua ujungnya dan biasanya tersusun dalam bentuk huruf T, V dan L.

Batang bakteri berwarna kuning dan butir volutinnya berwarna ungu kebiruan.

  1. Persiapan

1)    Sediaan yang akan dicat

2)    Larutan Neisser A :

a)    Methylene Blue        :   0,1 gr

b)    Alkohol 95%             :   9   ml

c)    Air suling                   : 95   ml

d)    Asam asetat              :   5   ml

Methylene blue digerus dalam mortar sampai hancur, kemudian ditambahkan alkohol dan terus digerus sampai larut.

Air suling ditambahkan sedikit demi sedikit, kemudian asam asetat, campur dan saring kedalam botol yang berwarna

3)    Larutan Neisser B :

a)    Gentian/kristal violet            :     1 gr

b)    Alkohol 95%                         :   10 ml

c)    Air suling                               : 300 ml

Gentian/kristal violet digerus dalam mortar sampai hancur dan dilarukan dalam alkohol, kemudian tambahka air suling. Larutan dikocok sampai larut betul, saring kedalam botol berwarna.

4)    Larutan Neisser C

a)    Bismark Brown Chrysoidin / Visuvin 2 gr, dilarutkan dalam 300 ml air suling

b)    Saring kedalam botol berwarna

  1. Cara Pengecatan dan Pembacaan

1)    Sediaan dicat dengan campuran Neisser A dan B sama banyak selama 25 detik

2)    Zat warna dibuang dan dibilas dengan Neisser C, kemudian dicat dengan Neisser C selama 25 detik

3)    Sediaan dikeringkan dengan meletakkannya diantara kertas saring

4)    Periksa dengan mikroskop dan laporkan hasilnya

  1. 4.    Pemeriksaan Sederhana

Pengecatan sederhana ini hanya mengetahui bentuk bakteri dengan warna tertentu, sehingga jarang sekali digunakan untuk keperluan diagnostik.

  1. Persiapan

1)    Sediaan yang akan dicat

2)    Larutan air methylene blue (lihat pengecatan ZN)

  1. Pengecatan dan Pemeriksaan

1)    Sediaan dicat dengan air methylene blue selama 1 – 2 menit

2)    Zat warna dibuang, sediaan dicuci air, keringkan dan periksa

3)    Laporkan bentuk bakteri yang terlihat, misalnya basil berwarna biru

  1. 5.    Pengecatan Kapsul

Ada beberapa cara pengecatan yang  biasa digunakan untuk melihat kapsul bakteri, yaitu Hiss, MacNeal dan Lowson dan berikut ini adalah cara Hiss

  1. Persiapan

1)    Serum jenuh

2)    Kaca objek kering, bersih dan tidak berlemak

3)    Zat warna Hiss :

a)    Gentian violet           :   1 gr

b)    Alkohol 95%             :   5 ml

c)    Air suling                   : 95 ml

Gentian violet digerum dalam mortar sampai hancur, kemudian dilarutkan dalam alkohol dan air suling, saring kedalam botol berwarna.

4)    Larutan tembaga sulfat 20 %

5)    Pertumbuhan/koloni bakteri

  1. Cara Pengecatan dan Pembacaan

1)    Dibuat sediaan tipis pada kaca objek dengan mencampur pertumbuhan bakteri dengan serum

2)    Sediaan dikeringkan kemudian difiksasi 3 kali melalui nyala api

3)    Sediaan yang telah dingin dicat dengan larutan Hiss dan dipanasi sedikit beberapa detik

4)    Sediaan dicuci dengan larutan tembaga sulfat, keringkan dan periksa

5)    Badan bakteri berwarna violet muda dan kapsul tidak berwarna atau pucat

  1. 6.    Pengecatan Flagella

Tanpa pengecatan khusus flagella bakteri tak mungkin kelihatan, dan cara pengecatan yang biasa digunakan untuk melihat flagella bakteri adalah cara Gray, Leiffson, dan modifikasi Leifson.

  1. Persiapan

1)    Pertumbuhan bakteri

2)    Kaca objek yang bersih dan kering

3)    Gray mordant :

Larutan mordan A :

a)    Larutan jenuh natrium aluminium                        : 5 ml

b)    Asam tannat 20%                                        : 2 ml

c)    Larutan jenuh merkuri khlorida                 : 2 ml

Larutan mordan B :

a)    Metil alkohol                                                             : 10 ml

b)    Basic fuchsin 1 %                                        : 10 ml

Larutan mordan A dan b dicampur pada waktu mau digunakan, hanya tahan 24 jam.

4)    Larutan air fuchsin (lihat zat warna Gram)

  1. Cara Pengecatan dan Pembacaan

1)    Buat sediaan pada kaca objek dari pertumbuhan bakteri, keringkan dan fiksasi

2)    Sediaan dibubuhi Gray mordant selama 5 – 10 menit

3)    Mordan dibuang dan sediaan dicuci air

4)    Sediaan dicat dengan larutan air fuchsin selama 5 – 10 menit  

5)    Zat warna dibuang dan sediaan dicuci dengan air, keringkan dan periksa

6)    Baik badan kabteri maupun flagella terlihat berwarna merah

  1. 7.    Pengecatan Spora

Ada beberapa cara pengecatan spora yaitu Donner, Wirtz-Conklin dan Abbot dan berikut ini adalah cara pengecatan spora menurut Donner :

  1. Persiapan

1)    Pertumbuhan/koloni bakteri

2)    Kaca objek yang bersih dan kering

3)    Larutan Donner :

a)    Nigrosin         :   10 gr

b)    Air suling       : 100 ml

c)    Formalin        :     0,5 ml

Nigrosin dilarutkan dalam air suling yang mendidih selama 30 menit, kemudian ditambahka fomalin.

Larutan dikocok, kemudian disaring kedalam botol yang berwarna dan simpan pada tempat yang gelap.

4)    Tabung reaksi dan air suling steril

5)    Larutan karbol fuchsin ZN

 

  1. Cara Pengecatan dan Pembacaan

1)    Dibuat suspensi tebal koloni bakteri dalam 3 – 4 tetes air suling pada tabung reaksi

2)    Ditambahkan 3 – 4 tetes karbol fuchsin, campur da rebus dalam air mendidih 10 – 15 menit

3)    Letakkan satu mata ose larutan Donner pada pertengahan kaca objek, kemudian ambil bahan dari tabung tadi satu mata ose dan campur dengan larutan Donner yang selanjutnya dibuat sediaan yang tipis

4)    Sediaan tersebut dibiarkan kering kemudian diperiksa dibawah mikroskop

5)    Spora akan berwarna merah dan badan bakteri kelihatan tidak berwarna pada latar belakang yang abu-abu.

  1. 8.    Pengecatan Negatif

Untuk melihat bakteri yang tidak atau sulit dicat dilakukan pengecatan negatif, dimana yang dicat adalah latar belakang sehingga bakteri akan terlihat putih.

  1. Persiapan

1)    Tinta Cina atau tinta India

2)    Kaca objek yang bersih dan kaca pendorong

3)    Spesimen yang dicurigai

4)    Sengkelit

  1. Cara Pengecatan dan Pembacaan

1)    Masing-masing satu mata ose tinta dan spesimen diletakkan berdampingan pada permukaan dekat bagian ujung sebuah kaca objek

2)    Dengan menggunakan kaca pendorong yang diletakkan d depatetesan tadin kedua pada posisi 45 derajat ditarik kebelakang sehingga tetesan bercampur.

3)    Kaca pendorong tetap pada posisi 45 derajat didorong kedepan sedemikian rupa untuk memperoleh suatu hapusan yang tipis.

4)    Sediaan dikeringkan dan diperiksa

5)    Bakteri/Treponema akan terlihat berwarna putih pada latar belakang yang hitam.

 

  1. J.    Isolasi Bakteri Aerob/Anaerob Fakultatif Dari Spesimen

Untuk berhasilnya suatu isolasi bakteri dari spesimen klinik, maka hal berikut ini perlu diperhatikan :

  1. Jumlah bakteri yang menyebabkan infeksi pada umumnya banyak oleh sebab itu perlu dilakukan penghitungan jumlah bakteri dalam  spesimen, apakah secara kuantitatif adan semikuantitatif saja.
  2. Pasa isolasi pertama bakteri pada umumnya membutuhkan karbon dioksida untuk pertumbuhannya.
  3. Usahakan menggunakan beberapa jenis media isolasi yang memungkinkan semua jenis bakteri dapat dibiakkan.
  4. Setiap spesimen (kecuali darah dan tinja) selalu sibuat sediaan untuk pengecatan Gram.

Berikut ini adalah cara isolasi dan beberapa jenis spesimen klinik yang sering dilakukan di labratorium bakteriologi :

  1. 1.    Urin
    1. Persiapan

1)    Media isolasi (plat agar darah, coklat agar dan Mac.Conkey Agar

2)    Ose terkalibrasi 1 ul steril

3)    Inkubator CO2 atau anaerobic jar

4)    Spesimen urin

  1. Cara Kerja

1)    Dengan menggunakan ose terkalibrasi 1 ul, urin diambil (urin terlebih dahulu dikocok) dengan posisi tegak lurus yang dicelupkan dengan kedalaman sekitar 1 cm, kemudian digoreskan dengan membuat satu garis tegak lurus dari atas ke bawah pada pertengahan plat agar coklat.

2)    Dengan ose tadi bahan disebarkan merata dengan membuat goresan-goresan yang momotong garis tadi mulai dari atas sampai kebawah.

3)    Hal tersebut diatas dilakukan pula pada plat agar darah dan Mac.Conkey.

4)    Plat agar darah dan agar coklat diinkubasi pada 35 – 37°C pada suasana CO2 5% selama 18 – 24 jam.

5)    Jumlah koloni yang tumbuh pada setiap medium isolasi dikalikan dengan 1000 untuk memperoleh jumlah bakteri tiap ml urin (105 bakteri tiap ml urin dijadi dasar sebagai keadaan infeksius) disamping pertimbangan lainnya.

6)    Jika terjadi pertumbuhan bakteri lebih dari satu jenis bakteri, usahakan menentukan jumlah setiap jenis bakteri untuk tiap ml urin.

7)    Bila pada pengecatan Gram tidak ditemukan adanya sel bakteri dan pada inkubasi hari pertama tidak terdapat pertumbuhan, maka hasil dapat dilaporkan, tetapi bila pada pengecatan Gram terdapat sel bakteri dan pada inkubasi pertama tidak ada pertumbuhan, maka inkubasi dilanjutkan sampai hari kedua.

8)    Setelah inkubasi pada hari kedua tetap tidak terlihat adanye pertumbuha sedangkan pada sediaan Gram terlihat adanya sel bakteri, maka kemungkinan bakteri tersebut adalah bakteri anaerob obligat.

  1. 2.    Liquor

Isolasi bakteri dari liquor pada prinsipnya sama dengan isolasi dari spesimen urin, hanya ose terkalibrasi yang digunakan adalah 10 ul bukan 1 ul, oleh sebab itu jumlah bakteri yang tumbuh pada medium isolasi dikalikan dengan 100 untuk memperoleh jumlah bakteri setiap ml liquor (103 bakteri tiap ml liquor dijadikan dasar sebagai keadaan infeksius) disamping adanya pertimbangan lain.

  1. 3.    Cairan tubuh dan spesimen swab
    1. Persiapan

1)    Media isolasi (plat agar darah, coklat agar dan Mac.Conkey Agar)

2)    Sengkelit

3)    Inkubator CO2 atau anaerobic jar

4)    Spesimen yang akan diperiksa

  1. Cara Kerja

1)    Spesimen cairan diambil dengan sengkelit steril, sehingga diinokulasi sedemikian rupa pada plat agar darah, sehingga diperoleh empat kuadran goresan dimana antara satu kuadran dengan kudran lainnya sengkelit tak perlu dibakar.

2)    Hal tersebut diatas dilakukan pula pada media plat coklat agar dan Mac.Conkey

3)    Plat Agar darah dan coklat agar diinkubasi pada suhu 35 – 37°C dalam suasana CO2 5%, sedangkan plat Mac.Conkey diinkubasi pada suhu 35 – 37°C pada inkubator udara biasa selama 18 – 24 jam dengan ketentuan jika pad hari pertama belum ada pertumbuhan dan pada pengecata Gram tid terlihat adanya sel bakteri maka hasil bisa dilaporkan.

4)    Inkubasi dilakukan 2 kali 24 ja jika pada sediaan Gram terlihat sel bakteri dan inkubasi hari pertama belum ada pertumbuhan atau pertumbuhan bakteri hanya pada kuadran pertama (+), pertumbuhan sampai pada kuadran kedua (++), pertumbuhan sampai pada kuadran ketiga(+++), (sebagai dasar adanya infeksi adalh nilai +++ keatas) disamping pertimbangan lainnya.

5)    Terlihatnya sel bakteri pad medium Gram tetapi tidak ada pertumbuhan pada hari kedua, kemungkinannya adala bakteri anaerob obligat.

  1. 4.    Sputum
    1. Persiapan

1)    Media isolasi (plat agar darah, coklat agar dan Mac. Conkey Agar)

2)    Ose terkalibrasi 10 ul

3)    Salin steril

4)    Sputasl (Oxoid)

  1. 5 ml air suling steril digunakan untuk merekontruksi 1 vial sputasol yang selanjutnya secara aseptic dilarutkan dalam 95 ml air suling steril.
  2. 4,5 ml dimasukkan pada setiap tabung steril dan disimpan pada -20 °C tahan sesuai dengan expired datenya (untuk pengecatan 1 : 10 ditambahkan sputum 0,5 ml)

5)    Spesimen sputum

  1. Cara Kerja

1)    Sputum diencerkan dengan sputasol 1 : 10, dikocok dengan vortex sampai homogen berul lalu diencerkan dengan salin menjadi 1 : 100

2)    Pengenceran 1 : 100 ini dikocok terlebih dahulu dengan vortex, kemudian diinokulasikan masing-masing kedalam plat gar darah, coklat agar dan Mac.Conkey seperti pada spesimen liquor.

3)    Plat agar darah dan coklat agar diinkubasikan pada suasana CO2 5%, sedangkan Mac.Conkey agar perlu inkubasi biasa 35 – 37°C selaa 18 – 24 jam, jika perlu sampai 2 kali 24 jam.

4)    Jumlah bakteri yang tumbuh pada setiap medium isolasi dikalikan dengan 104 untuk memperoleh jumlah bakteri pel ml sputum.

5)    Karena dalam sputum terdapat banyak jenis bakteri yang komensal maka yang dilaporkan adalah maksimal 2 jenis bakteri yang terbbanyak jumlahnya (masing-masing dilaporkan jumlahnya).

6)    Pada sediaan Gram jumlah rata-rata PMN perlapangan pandang (objektif 10 da okuler 10), sputum yang baik rata-rata sel PMN adalah lebih dari 25 sel pel LP.

  1. 5.    Darah
    1. Persiapan

1)    Medium pemupuk (BHIB atau TSB)

2)    Spoit steril untuk pengambilan darah dan bahan dari medium pemupuk

3)    Media isolasi (plat agar darah, coklat agar dan Mac.Conkey)

4)    Tabung reaksi steril

5)    Sengkelit

  1. Cara Kerja

1)    Darah diambil secara aseptik pada vena sebanyak 2 ml langsung dimasukkan kedalam botol yang berisi 18 ml BHIB atau TSB ( 1 : 9)

2)    Medium pemupuk diinkubasi selama 1 sampai 5 hari  pada suhu 35 – 37°C, dengan ketentuan jika telah terjadi kekeruhan selama proses inkubasi, cairan dari media pemupuk diambil sekitar 0,5 ml secara aseptik dengan spoit steril dn dimasukkan kedalam tabug steril.

3)    Cairan ini diinokulasi pad masing-masing plat agar darah, coklat agar dan Mac.conkey, yang selanjutnya diinkubasi seperti spesimen lainnya.

4)    Jika sampai hari kelima medium pemupuk tetap tidak terlihat adanya kekeruhan, maka sebelum dibuang tetap dilakukan inokulasi pada media isolasi.

Untuk pemeriksaan khusus, isolasi dan identifikasi akandjelaskan tersediri dalam BAKTERIOLOGI II.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Mahon, Connie R, MS. MT (ASCP) and Manuselis, George, Jr, MA. MT(ASCP).1995. Texbook of Diagnostic Microbiology, Philadelphia London Toronto Montreal sydney Tokyo, W.B. Saunders Company
  2. Baron, Ellen Jo, Ph.D. Et al. 1994. Bailey & Scott’s Diagnostic Microbiology, 9th Edition, St Louis Baltimore Boston Chicago london Madrid Philadelphia Sydney Toronto, M. Mosby
  3. Syahrurahman, A. dkk. 1994. Mikrobiologi kedokteran, Jakarta, Binarupa Aksara
  4. Frankel, sam, Ph.D.et al, 1970. Gradwohl’s Clinical Laboratory Methods and Diagnosis, 7th Edition, saint Louis, The C.V. Mosby Company
  5. Fujiki, A. 1998 TB Microscopy, Japan, The Research Institute of Tuberculosis
  6. 2001. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberculosis, Cetakan ke 6, Jakarta, Departemen Kesehatan Republik Indonesia
  7. GIBCO Diagnostic Dri-Form Media Sylvana, GIBCO Diagnostic Laboratories
About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s